Gus Mus: Jadilah Kiai yang Mengemong Umat…

UNGARAN, KOMPAS.comWa Kafaa Bil Mauti Wa Idzho. Sudah cukup kematian ini sebagai nasehat.

Demikian ungkapan pertama yang disampaikan KH Ahmad Mustofa Bisri atau yang akrab dipanggil Gus Mus menyitir hadis Nabi Muhammad SAW saat diberikan kesempatan untuk menyampaikan mauidloh hasanah atau tausiyah dalam upacara pemberangkatan jenazah Mustayar PBNU KH Mahfudz Ridwan di Ponpes Edi Mancoro, Desa Gedangan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Senin (29/5/2017).

Menurut Gus Mus, sebenarnya tidak perlu ada tausiyah jika sudah ada nasihat dari sebuah kematian. “Sebab kalau dinasihati dengan kematian saja tidak mendal (mempan), maka dinasihati oleh ustaz, mubaligh tambah tidak mempan,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu Gus Mus bercerita mengenai sosok Kiai Mahfudz yang belum diketahui oleh masyarakat Indonesia. Menurut pengasuh Ponpes Raudhatut Thalibin Lateh, Rembang ini, Kiai Mahfudz bukanlah tokoh sembarangan.

Ia menceritakan, setiap kali KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur harus bersikap dan mengeluarkan keputusan-keputusan penting, Gus Dur selalu menyatakan dirinya menunggu nasihat dari para Kiai-kiai Khos (khusus). Gus Mus meyakini berdasarkan penelaahan dan analisisnya,  kiai-kiai Khos di sekeliling Gus Dur itu salah satunya adalah Kiai Mahfudz.

“Beliau ini tidak main-main,” katanya.

“Setelah saya menganalisis dan sebagainya, satu di antaranya (kiai khos) adalah Kiai Mahfudz Ridwan ini. Karena beliau ini yang selalu ngemong Gus Dur sejak masih belajar di Irak,” tambahnya.

Sosok Kiai Mahfudz ini, kata Gus Mus, merupakan tipologi kiai yang estu (tulen, sesungguhnya). Kiai yang sa’estu, katanya, adalah kiai yang melihat umat dengan mata kasih sayang.  Kiai Mahfidz sebut dia, selalu mengemong dan mengayomi umat dari agama apapun.

“Lihatlah yang takziah beliau berasal dari berbagai lapisan, karena mereka merasa pernah diayomi,” ucapnya.

Kemudian tiba giliran Gus Mus untuk meminta kesaksian dari para pelayat ihwal rekam jejak Kiai Ridwan, apakah tergolong manusia baik atau bukan.

Gus Mus mengawalinya persaksiannya itu dengan pernyataan, bahwa dirinya adalah adik seperguruan Kiai Mahfudz saat mondok di sebuah pesantren di Rembang. Gus Mus mengakui kebaikan Kiai Mahfudz yang pernah mengemong dirinya saat mondok tersebut.

“Kalau saya sudah menyaksikan sendiri kebaikan beliau. Sekarang saya ingin menanyakan baik atau tidak, saya ingin menyaksikan sendiri dari penjenengan yang hadir,” ujarnya.

Sae nopo mboten (baik atau tidak)?” tanya Gus Mus tiga kali.

Sae..Sae..Sae (baik, baik,baik),” jawab para pelayat.

Pada akhir tausiyahnya Gus Mus memanjatkan harapan agar generasi muda bisa mencontoh keteladanan dari sosok Kiai Mahfudz.

“Jadilah kiai yang ngemong umat, ngayomi semua umat. Jangan jadi kiai yang membuat bingung umatnya, jadilah kiai yang membuat tenang umat. Jangan jadi kiai yang menambah sumpeke (sulitnya) umat,” sebutnya.

Saat menyampaikan harapan ini Gus Mus menangis sesenggukan sebelum ia akhiri tausiyahnya dengan penutup salam.

Sumer: kompas.com

 

Leave a Reply

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com